Minggu, 22 Maret 2009

Observasi Rawa Desa Tungkaran

 Rawa di desa Tungkaran, kecamatan Martapura di Kabupaten Banjar dijadikan sebagai objek penelitian lahan basah dan kefarmasian pada tanggal 12 Maret 2009 kemaren. Kawasan yang berada di titik koordinat 30 23’ 55.7” Lintang Selatan dan 1140 49’ 32,5” Bujur Timur ini merupakan kawasan dominan perairan atau rawa. Rawa di desa Tungkaran ini dapat dikatakan sebagai lahan basah karena kawasannya selalu tergenang air, bersifat alami, payau dan tetap dengan kedalaman pada waktu surut tidak lebih dari 6 meter.Ekosistem lahan basah di kawasan ini dihidupi berbagai jenis tumbuhan maupun hewan. Tumbuhan yang hidup di kawasan ini yaitu tanaman rawa seperti eceng gondok, teratai, kangkung, purun tikus, padi, purun tikus, kelakai, dan beberapa tanaman lain yang tumbuh di tanah seperti tanaman jambu biji dan pohon pisang.  


Kawasan ini juga dijadikan warga setempat untuk memancing dan menjala ikan, karena di kawasan ini banyak dihidupi ikan-ikan rawa seperti ikan sepat, ikan papuyu, dan ikan haruan (gabus).  Ikan gabus ini dapat digunakan untuk menggantikan serum albumin dalam tubuh. Dari sini kita dapat memandang kawasan ini dari sudut pandang nilai ekonomisnya, yaitu kawasan ini dijadikan warga sebagai mata pencaharian tetap maupun sampingan. 


Selain itu warga juga menggunakan kawasan rawa ini untuk menanam tanaman seperti padi, pisang, kelapa, dan lain-lain. Oleh sebab itu, kawasan lahan basah di Desa Tungkaran merupakan kawasan perekonomian warga setempat. 


Ekosistem lahan basah di Desa Tungkaran ini mempunyai nilai dipandang dari sudut ekonomis dan kefarmasian. Tanaman yang ada di kawasan ini, seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang dapat digunakan sebagai bahan kerajinan untuk membuat tas, kipas, dan lain-lain. Eceng gondok ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, eceng gondok ini dapat mengikat unsur logam pada H2O dan daunnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Eceng gondok dapat digunakan untuk mengobati penyakit kulit seperti bisul dan bercak-bercak, tenggorokan panas, dan kencing tidak lancar.



       Teratai (Nymphaea sp) dapat dijadikan sebagai obat demam, menyembuhkan sakit kepala, dan malaria. Abu daun teratai mengandung efek homeostatik yang dapat mengembalikan kondisi tubuh ke keadaan normal, selain itu juga dapat menghentikan pendarahan pada paru-paru, hidung, dan rahim mengobati diare, disentri, keputihan, demam, insomnia, sakit jantung, beri-beri, sakit kepala, berak dan kencing darah, serta anemia. Daun teratai biasanya dibuat untuk penurun panas. Batangnya sebagai obat penenang. Air rebusan dari bunga teratai dapat melancarkan buang air kecil, mengatasi mencret dan disentri. Sedangkan tepung mentah dari akar teratai dapat mengobati sariawan. Biji dan tangkai teratai berfungsi sebagai antihipertensi. 



Kangkung ternyata dapat berkhasiat sebagai antiracun dan dapat mengobati berbagai gangguan kesehatan. Kangkung berfungsi sebagai sedatif alias penenang. Selain itu, kangkung berfungsi sebagai pembawa zat berkhasiat ke saluran pencernaan. Itulah sebabnya kangkung mampu menetralkan racun dalam tubuh. Akar kangkung juga berguna untuk mengobati penyakit wasir. Kangkung memiliki manfaat sangat tinggi, karena mengandung vitamin A, B1, dan C, juga mengandung protein, kalsium, fosfor, zat besi, zat karoten, hentriakontan, dan sitosterol.


Purun tikus (Eleocharis dulcis) dapat dibuat kerajinan tangan seperti tikar, topi, tas, dan lain-lain. Selain itu purun tikus juga dapat dijadikan sebagai pestisida alami yang berperan sebagai habitat bagi beberapa jenis musuh alami terutama jenis parasitoid dan predator. Tanaman ini banyak ditemui pada tanah sulfat asam dengan tipe tanah humus.




Padi (Oriza sativa) dapat digunakan sebagai obat. Selaput biji berkhasiat untuk mengatasi lambung dan limpa lemah, tidak nafsu makan, gangguan pencernaan, rasa penuh di dada dan perut, beri-beri serta tangan dan kaki rasa kesemutan. Tangkai beras berkhasiat untuk mengatasi rambut kotor dan keguguran. Biji beras berkhasiat untuk mengatasi: demam, diare, gondongan, rematik, keseleo, radang payudara, radang kulit dan bisul. Akar berkhasiat untuk mengatasi keringat berlebihan. 


Kelakai (Stenochlaena palustris) dapat digunakan sebagai obat malaria, demam, penyakit kulit, dan sebagai obat awet muda. Telah dilakukan penelitian bahwa ekstrak methanol herba kelakai dapat digunakan sebagai anti diare.


Dilihat dari sudut pandang kefarmasian, tanaman di kawasan rawa di desa Tungkaran ini memiliki nilai yang sangat tinggi, kita dapat memanfaatkannya sebagai obat dari bahan alam. Jika kita lebih memanfaatkan tanaman yang ada di kawasan ini, maka tanaman yang tumbuh di kawasan lahan basah ini pun bernilai ekonomis yang tinggi untuk seorang farmasis maupun apoteker. Kita dapat membudidayakan tanaman-tanaman yang tumbuh di kawasan rawa tersebut tanpa merusak ekosistem lahan basah di sana. Seorang farmasis maupun apoteker dapat memberikan penyuluhan-penyuluhan mengenai tanaman obat yang dapat dibudidayakan oleh warga setempat dan mengetahui penyakit-penyakit yang sering mewabah di kawasan rawa. Dapat kita ambil contoh, misalnya malaria yang dapat kita obati dengan tanaman rawa seperti kelakai. Kita dapat memberikan penyuluhan-penyuluhan mengenai penyakit malaria, bagaimana mencegah dan mengobatinya, serta bagaimana penggunaan obatnya. Seorang farmasis atau apoteker pun dapat langsung berperan dengan membuat obat malaria dari ekstrak tanaman kelakai agar lebih bernilai ekonomis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar